5 Cara Memilih Hoist yang Tepat Sesuai Kebutuhan Pabrik
Pemilihan hoist merupakan salah satu keputusan paling krusial dalam sistem pengangkatan di pabrik maupun area industri. Kesalahan dalam menentukan spesifikasi hoist tidak hanya berdampak pada kerugian ekonomi, tetapi juga berpotensi menimbulkan risiko keselamatan kerja yang serius.
Salah satu kesalahan yang paling sering terjadi adalah penghematan di tahap awal pengadaan. Harga yang lebih murah memang terasa menguntungkan saat pembelian, namun dalam jangka panjang justru sering menimbulkan biaya yang jauh lebih besar. Hoist dengan spesifikasi yang tidak sesuai akan mengalami masa pakai yang lebih singkat, sering mengalami gangguan (trouble), menghambat proses produksi, dan pada kondisi terburuk dapat menyebabkan kecelakaan kerja hingga korban jiwa.
Oleh karena itu, penting untuk memahami aspek-aspek teknis sebelum menentukan pilihan. Berikut adalah panduan memilih hoist yang tepat agar sesuai dengan kebutuhan operasional pabrik Anda.
1. Menentukan Beban Angkat, Tinggi Lifting, dan Bentuk Beban
Langkah pertama dalam memilih hoist adalah memahami fungsi penggunaan dan kondisi area kerja. Hal mendasar ini akan menjadi acuan utama dalam menentukan spesifikasi teknis hoist dan sistem crane secara keseluruhan.
a. Menentukan Beban Angkat
Beban yang dimaksud adalah beban terbesar yang akan diangkat oleh hoist. Untuk alasan keselamatan dan keandalan sistem, sangat disarankan memberikan cadangan kapasitas (safety margin) sekitar 20–25% dari beban kerja aktual.
Apabila hoist terus-menerus digunakan mendekati kapasitas maksimalnya, motor akan bekerja lebih berat, suhu meningkat lebih cepat, dan komponen mekanis akan mengalami keausan dini. Hal ini secara langsung akan memperpendek umur pakai hoist.
b. Menentukan Tinggi Angkat (Lifting Height)
Tinggi angkat sering dianggap sepele, padahal merupakan salah satu faktor paling krusial dalam desain sistem hoist dan crane.
Sebagai contoh, apabila beban setinggi 3 meter harus diangkat ke atas truk dengan tinggi bak 3 meter, maka secara teori dibutuhkan tinggi angkat minimal 6 meter. Namun dalam praktiknya, setiap sistem crane memiliki headroom, yaitu jarak antara titik tumpu hoist dengan posisi hook paling atas. Pada sistem single girder atau monorail, headroom umumnya berkisar ±1 meter.
Artinya, hoist dengan spesifikasi lifting height 6 meter hanya mampu mengangkat beban efektif setinggi sekitar 5 meter. Dalam kasus tersebut, proses pengangkatan tidak akan dapat dilakukan. Oleh karena itu, perhitungan headroom wajib diperhitungkan sejak awal.
c. Mempertimbangkan Bentuk dan Karakteristik Beban
Selain berat dan tinggi, bentuk beban juga sangat menentukan metode pengangkatan. Beban 1 ton berbentuk balok padat tentu memiliki karakteristik yang berbeda dengan beban 1 ton berbentuk I-beam sepanjang 6 meter.
Untuk beban dengan bentuk memanjang atau tidak simetris, diperlukan:
- Penentuan center of gravity yang tepat
- Penggunaan lifting point tambahan atau spreader beam
- Metode pengikatan khusus agar beban tidak miring saat diangkat
Pengangkatan dengan posisi miring akan menyebabkan distribusi beban tidak merata, sehingga salah satu sisi hoist menerima beban lebih besar. Kondisi ini dapat mempercepat kerusakan komponen mekanis dan menurunkan faktor keselamatan.
2. Menentukan Jenis Penggerak Hoist
Hoist dibedakan berdasarkan jenis penggerak dan media pengangkat yang digunakan. Pemilihan keduanya harus disesuaikan dengan lingkungan kerja, intensitas penggunaan, dan tingkat keselamatan yang dibutuhkan.
a. Hoist Manual (Hand Hoist)
Hoist manual digerakkan menggunakan tenaga manusia dan memiliki beberapa keunggulan, antara lain:
- Tidak memerlukan sumber listrik
- Mudah dioperasikan dan dipindahkan
- Perawatan sederhana
- Biaya pengadaan relatif murah
- Aman digunakan di area berpotensi ledakan
Namun, hoist manual memiliki keterbatasan dari sisi kecepatan dan efisiensi, sehingga lebih cocok untuk pekerjaan dengan frekuensi rendah atau kondisi darurat.
Hoist manual terbagi menjadi dua jenis:
- Chain block: menggunakan rantai tarik vertikal
- Lever hoist: menggunakan tuas, cocok untuk penarikan horizontal atau posisi terbatas
b. Hoist Listrik (Electric Hoist)
Hoist listrik merupakan jenis yang paling umum digunakan di industri manufaktur. Keunggulannya meliputi:
- Kecepatan angkat yang stabil dan efisien
- Akurasi posisi yang tinggi
- Mampu mengangkat beban berat secara kontinu
- Cocok untuk sistem crane otomatis atau semi otomatis
Hoist listrik bekerja dengan bantuan motor dan gearbox untuk melipatgandakan tenaga angkat. Namun, jenis ini memerlukan perawatan rutin dan inspeksi berkala agar performa dan keselamatan tetap terjaga.
c. Hoist Pneumatik (Air Hoist)
Hoist pneumatik digerakkan menggunakan udara bertekanan. Udara masuk ke dalam sistem dan menggerakkan mekanisme internal melalui gearbox.
Keunggulan utama air hoist antara lain:
- Sangat aman untuk area berbahaya atau mudah meledak
- Kontrol kecepatan sangat fleksibel
- Perawatan relatif mudah
- Tidak menghasilkan percikan listrik
Air hoist sangat ideal digunakan di area seperti pabrik kimia, kilang minyak, atau lingkungan dengan standar keselamatan tinggi (hazardous area).
3. Menentukan Klasifikasi penggunaan hoist (Duty class)
Dalam pemilihan hoist, ada satu hal yang sangat penting untuk dipertimbangkan, yaitu Duty Class. Duty class menentukan bagaimana karakteristik hoist tersebut. Dengan mempertimbangkan Duty Class anda dapat menghemat biaya secara keseluruhan.
Anda coba bayangkan pelari marathon disuruh lari cepat jarak 100m, dan pelari cepat disuruh lari marathon, pasti kacau. Begitu juga di hoist, kita tidak hanya menentukan kapasitas dan lifting. Hoist 5 ton dengan Duty Class A tidak sama dengan hoist 5 ton dengan duty class F.
Hoist dengan kelas kerja ringan memang lebih murah, namun secara biaya keseluruhan pasti sangat merugikan dan lebih mahal jika tidak sesuai dengan beban operasional. Hoist kelas kerja ringan yang dipaksakan untuk kerja berat akan sering mengalami trouble seperti motor overhead, coil terbakar, gearbox macet dan lainnya, akibat nya biaya untuk perbaikan membengkak, bahkan harus ganti unit lagi, bukan cuman itu hal ini juga tentunya akan menghambat proses produksi.
Oleh karena itu berikut saya rangkum beberapa standar untuk kelas kerja pada hoist berdasarkan standar Amerika, Eropa, ISO, dan yang digunakan di indonesia.
Duty Cycle (ED %) misal ed 40%, motor dapat bekerja selama 4 menit dalam 10 menit
Duty Class, secara keseluruhan, tergantung pada duty cycle atau jumlah siklus, beban rata”, intensitas pemakaian.
a. Klasifikasi Mekanisme Hoist and Crane berdasarkan standar Eropa (FEM)
Pada FEM 9.511, Hoist crane diklasifikasikan berdasarkan waktu operasional dan spektrum beban. Spektrum beban merupakan suatu nilai yang menentukan bagaimana hoist tersebut beroperasi, apakah sering diam lalu mengangkat beban yang berat, atau sering dipakai dalam beban yang kecil, atau kadang mengangkat beban berat, kadang beban ringan. Kombinasi total waktu operasional dan spektrum beban ini lah yang menjadi dasar Duty Class ada FEM.
Berikut pembagian kelas hoist crane berdasarkan waktu pakainya.
Setelah anda menentukan kelas waktu operasional anda, selanjutnya anda perlu menentukan load spectrum dari operasional anda. Berikut table load spectrum berdasarkan FEM 9.511
Nilai k diperoleh dari rumus berikut:
Rumus di atas dapat dipakai apabila :
Jika tidak maka rumus nya sebagai berikut:
Atau untuk penjelasan lebih lanjut anda dapat melihat gambar berikut, berikut nilai batasan dari masing masing kelas:
Setelah menentukan kelas waktu operasional dan beban spektrum, kita dapat mengkategorikan mekanisme hoist crane tersebut ke 8 grup.
b. Klasifikasi Motor Hoist berdasarkan FEM 9.682
Selain menentukan klasifikasi mekanisme kerja hoist crane, motor hoist juga diklasifikasikan pada FEM 9.682. Pertimbangan motor hoist bukan hanya torsi yang dibutuhkan untuk mengangkat beban tetapi juga pada periode penggunaan hoist crane atau jumlah start per jam yang berpengaruh pada panas yang dihasilkan motor hoist.
Dengan menentukan kelas motor yang tepat berdasarkan durasi penggunaan, jumlah start per jam, dan beban dapat mencegah terjadinya overheat pada motor dan coil terbakar.
Berikut pembagian klasifikasi spesifikasi motor hoist sesuai standard FEM 9.682.
Motor hoist dibedakan menjadi beberapa jenis penggunaan, ada yang penggunaan berulang” (intermittent duty), short time duty (hoist bekerja tanpa henti selama periode tertentu, batas periode nya di cantumkan di tabel berikutnya), dan motor hoist yg bekerja campuran, kadang intermittent duty dan kadang short duty.
Pada intermittent duty, Duty Cycle pada motor hoist ditentukan dari rumus berikut:
Pada short time duty, periode operasional motor tidak boleh lebih dari yang tercantum di tabel bawah, dan jumlah start nya tidak boleh lebih dari 10 kali.
Berikut ini tabel kelompok kategori pada motor hoist dengan kategori kerja campuran, intermittent duty dan short duty.
Berdasarkan tabel di atas kita ambil contoh pada hoist kategori 2m atau M5 (ISO), maka motor tersebut dapat digunakan selama 40 cycle per jam, kemudian dapat start and stop sebanyak 240 kali per jam, Persen ED nya 40% yang berarti dapat bekerja 4 menit dalam 10 menit. Dan juga dapat dikombinasikan dengan kerja short time selama 30 menit per jam, dengan catatan jumlah starts/h nya tidak lebih dari 10 untuk short-time service.
Untuk standar lain nya, anda dapat lihat di sini ( Hoist and crane standard amerika, dan Staandar yg di pakai di Indonesia)
4. Meninjau area lingkungan
Pada area yang bersih dan suhu stabil mungkin hoist dapat bekerja maksimal, namun bagaimana pada area yang berdebu, panas, atau udara yang lembab?
Kondisi lingkungan operasional hoist menjadi salah satu hal yang perlu kita perhatikan, angin, hujan, suhu, debu dan kelembapan udara sangat mempengaruhi kinerja dari hoist crane itu sendiri. Sebagai contoh pada area produksi yang terdapat gas berpotensi meledak, maka diperlukan hoist yang memiliki fitur explosion proof. Selanjutnya mari kita bahas untuk masing” lingkungan.
a. Area lingkungan outdoor
Pada area outdoor hoist crane akan mendapatkan banyak tantangan yang mempengaruhi kinerja nya. Yang pertama yaitu beban angin, pada area outdoor beban angin menjadi suatu pertimbangan karena dapat mempengaruhi kestabilan struktur hoist crane, untuk itu perlu perencanaan untuk menahan gaya lateral yang cukup.
Selain itu udara pada lokasi pesisir juga mengandung garam yang tinggi, sehingga material hoist crane perlu didesain menggunakan bahan yang tahan korosi atau dilapisi dengan bahan galvanis.
Lokasi outdoor juga tidak lepas dari air hujan dan debu yang terbawa angin yang dapat mempengaruhi kelistrikan hoist, oleh karena itu diperlukan hoist dengan IP 65 atau lebih tinggi yang dapat mencegah debu masuk atau air dengan tekanan rendah.
b. Area lingkungan Indoor
Pada area indoor pada umumnya perlu memperhatikan apakah area tersebut berdebu, memiliki suhu yang ekstrim atau udara mengandung bahan yang mudah meledak. Anda perlu memperhatikan tersebut. Anda perlu hoist dengan IP (Ingress Protection) yg cukup untuk area berdebu, untuk area panas memerlukan insulation kelas F atau lebih, untuk area yang mudah meledak anda perlu hoist crane dengan fitur explosion proof.
5. Standar dan Regulasi
Hoist crane merupakan salah satu fasilitas yang memiliki resiko tinggi, oleh karena itu di indonesia penggunaan hoist and crane ini memiliki regulasi yang sangat ketat. Berikut beberapa regulasi utama yang perlu anda patuhi:
- Permenaker no 8 tahun 2020, tentang keselamatan dan kesehatan kerja pesawat angkat dan pesawat angkut
- Surat Izin Alat yang dikeluarkan oleh Kemnaker RI
